Senin, 16 Desember 2013

Kesaksian salah satu anak Tuhan!!!


BERKAT mengejar anak-anak Tuhan yang Setia

Nama saya irene anak ke-3 dari 4 bersaudara yang semuanya Putri dari Pasangan Bpk. Amin Tanjung dan Ibu Maria Lisawati Soesilo, berdomisili di Surabaya dan belum menikah, sekarang saya bekerja di Komugi Bakery wilayah Surabaya sebagai area Manager.
Ayah saya adalah anak seorang yang cukup berada pada masa itu dimana kakek saya adalah Perantauan dari Cina daratan.
Namun setelah menikah usaha Ayah saya banyak mengalami kegagalan & kebangkrutan, dan keluarga mengalami puncak kebangkrutan saat saya lahir sehingga kalau menurut adat orang Cina saya bisa dikatakan anak Pembawa Sial (tapi orang tua saya tidak pernah menyebutkan begitu karena sangat mengasihi saya).

Setelah mengalami beberapa kali kebangkrutan usaha dan sudah tidak ada modal sama sekali akhirnya ayah saya bekerja ikut orang atau Perusahaan tapi entah apa yang terjadi, Ayah saya berkali-kali pindah pekerjaan dan tidak pernah lama bekerja pada suatu tempat bahkan disela-sela perpindahan pekerjaannya seringkali sempat nganggur sedangkan ibu hanya seorang Ibu rumah tangga. Sehingga seringkali kami mengalami tidak adanya Penghasilan sama sekali dalam keluarga.

Boleh dibilang saya mengalami kondisi ekonomi keluarga seperti ini sejak kecil. Saya ingat pada waktu saya masih TK Rumah Ayah di Tenggilis Mejoyo disita oleh Perusahaan karena Ayah tidak bisa membayar hutangnya pada Perusahaan dan menyebabkan sekolah saya terlambat 1 tahun dan kami sekeluarga menumpang dirumah Kakek dari Mama yang juga berada di Tenggilis Mejoyo.

Saya mulai bersekolah di SDN. Kendangsari I, saya ingat betul kakek saya masih sempat mengantarkan saya ke sekolah dengan sepeda ontel, tapi setelah kakek tiada, saya berangkat sekolah diantar kakak saya naik sepeda tapi pulangnya harus jalan kaki karena jam pulang yang tidak sama. Sekitar kelas 2 SD saya sudah terbiasa pulang berjalan kaki dari sekolah saya di kendangsari sampai Rumah Nenek di Tenggilis Mejoyo Selatan (dekat Ubaya). Dan entah sifat darimana sejak kecil saya tidak suka dikasihani orang bahkan perjalanan jauh yang harus saya tempuh dengan berjalan kaki harus bertambah jauh lagi karena saya tidak mau melewati jalan besar tapi harus melawati jalan belakang yang berliku-liku dan melewati rawa-rawa hanya untuk menghindari teman teman saya yang pulang dengan naik becak, sepeda ataupun mobil. Saya merasa malu jika ditawari untuk nunut mereka pulang, apalagi Sekolah saya termasuk sekolah favourite sehingga rata-rata teman saya adalah anak orang kaya.

Di SD kelas 4 saya sudah sering bolos sekolah karena Orang tua saya sudah mulai Pindah Rumah ke Griya Wage Sidoarjo sehingga transportasi saya kesekolah sangat jauh, Pada waktu itu kedua kakak saya dititipkan dirumah nenek hanya saya dan adik yang tinggal di Sidoarjo sedangkan sekolah kami masih di Surabaya.

Pada akhirnya saya juga sempat tinggal dirumah Nenek sampai SMP kelas 2 dan bersekolah di SMPN 17. Pada saat kelas 2 SMP atau tahun 1993 itulah Kakak saya yang pertama meninggal dunia di usia 18 tahun dan saat itu sudah menginjak SMA kelas 3 dan kata dokter kemungkinan sakitnya karena bakteri di paru-parunya menyerang syaraf otak yang menyebabkan radang otak. Sekitar 2 tahun Kakak saya bergelut dengan penyakit yang sebelumnya tidak dapat didiagnosis.

Keluarga ditanam nilai kebenaran Firman Tuhan sejak kecil
Kakak saya inilah contoh iman didalam keluarga karena walaupun kami dari kecil sudah ikut sekolah minggu tapi dia yang paling punya semangat dan iman yang berkobar-kobar dia juga yang mengajak kami semua beribadah di Gereja Bethany Manyar bahkan dia rela mengantar jemput teman-temannya kegerja dengan sepeda ontel walaupun rumah temannya jauh. Dia aktif melayani di Pemuda Bethany Manyar sebagai singer dan paduan suara. Saya ingat betul saat kakinya sempat lumpuh dan tidak bisa jalan dia bersikeras tetap ke gereja dan melayani walaupun untuk naik ke ruang kebaktian harus digendong beramai-ramai oleh teman-temannya.

Saya menyaksikan sendiri perjuangan hidup yang luar biasa yang dilakukan oleh kakak saya sehingga memberi inspirasi kepada kami sekeluarga untuk tidak mudah menyerah bahkan disaat sakitnya (setelah bangun dari koma beberapa bulan) dia selalu mengatakan dengan sukacita kepada semua orang yang ditemui bahwa Tuhan Yesus itu sangat baik, dia selalu berdoa dan memuji Tuhan dengan suara keras walaupun botol infus menempel dikaki dan tangannya, belum lagi cateter dan oksigen dihidungnya ditambah lagi badannya yang sangat kurus tinggal tulang yang mengecil, rambut yang rontok dan hampir habis serta daging di panggulnya yang bernanah dan sampai tersangkut ke perban sehingga panggulnya lubang dan tulang ekornya terlihat sekitar 5 jari, saya bisa bayangkan betapa sakit kondisi tubuhnya dengan tulang ekor yang tanpa penahan daging sedikitpun, seringkali dia mengatakan tubuhnya sakit semua bahkan mungkin karena terlalu sakitnya Kakak saya Silvia Tansy sering kejang kejang. Tapi yang luar biasa dia selalu bisa bersyukur dan mengatakan Tuhan Yesus sangat baik bahkan sebelum meninggal dia sempat berpesan kepada Ayah saya agar jangan pernah meninggalkan Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus sangat baik, dan satu lagi mujizat Tuhan yakni ditengah kondisi ekonomi kami yang tidak mampu Tuhan selalu menyediakan dana untuk perawatan kakak saya selama dirumah sakit tepat pada waktunya, walaupun akhirnya kakak saya tiada tapi kami yakin dia pasti masuk surga, dia sering mengatakan kepada semua orang bahwa setelah lulus SMA ia akan melayani Tuhan sepenuh waktu.
Kami sekeluarga percaya bahwa ini rancangan Tuhan yang terbaik bagi setiap kami meski tidaklah mudah bagi kami untuk dapat menerima kejadian ini.
Pukulan terberat mungkin terjadi saat saya SMP setelah keluarga kami kehilangan anak tertua yang menjadi harapan kami untuk dapat segera bekerja dan menopang ekonomi keluarga ( walaupun sebelumya kakak saya ini juga yang paling banyak membantu ekonomi keluarga dengan berjualan krupuk, daster, batik, jepit, kartu natal sampai apapun juga yang bisa dia kerjakan ).
Cobaan bertubi-tubi sepertinya tidak pernah berhenti mendera keluarga kami, hanya lewat beberapa bulan sepeda motor yang dapat kami beli lunas dari Sumbangan karena kematian kakak saya harus ditukar dengan sepeda motor baru yang masih kredit dan akhirnya Sepeda motor itupun disita oleh Pihak Dealer, dan kami semua sempat akan putus sekolah jika Tuhan tidak menggerakkan hati om kami dan bos dari tante saya, selang beberapa bulan gantian rumah kami yang akan disita oleh Bank karena sudah lama kami tidak dapat membayar cicilan rumah kepada Bank.
Saya ingat betul saat teman-teman yang lain sedang giat mengikuti pelajaran tambahan saya justru sudah tidak masuk hampir 3 bulan, dan saya masuk pada saat hari H ebtanas, semula banyak guru yang menentang saya untuk ikut ujian karena saya sudah lama tidak masuk sekolah dan juga belum membayar SPP & Uang Ebtanas, namun Ayah saya membantu berbicara kepada kepala sekolah dan berjanji akan segera melunasi administrasi sehingga saya bisa dapat mengikuti Ujian walaupun tetap dibayang-bayangi oleh persoalan rumah yang sedang dilelang, karena jika rumah kami laku dalam lelang kami harus segera mengosongkan rumah dan jika tidak barang-barang kami akan dibuang keluar.
Tapi Pembelaan Tuhan sungguh luar biasa dengan cara yang ajaib rumah kami tidak pernah laku dilelang bahkan setelah bertahun-tahun ada surat keputusan dari BPPN yang menyatakan bahwa kami telah melunasi hutang kami padahal kami tidak pernah melakukan pembayaran sama sekali, sungguh cara Tuhan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Saat saya memasuki Sekolah lanjutan atas dan memilih SMEA Negeri I atas dukungan ayah saya, maka saat itu om saya yang selama ini banyak membantu biaya sekolah marah besar dan tidak setuju saya masuk sekolah kejuruan karena mengganggap sekolah kejuruan tidak bermutu dan lulusannya tidak dihargai orang. Tapi orang tua saya tetap mendukung saya sepenuh hati dan saya memilih jurusan Akuntansi.
Disinipun ujian belum berhenti karena selain sering telat bayar SPP saya juga sangat terkenal sebagai satu-satunya murid keturunan Tionghoa yang suka bolos, telat, dan paling ruwet dalam hal pembayaran, sampai Kepala Sekolah saya pernah bilang jika saya tidak menempati rangking disekolah mungkin sudah dari dulu-dulu saya dikeluarkan dari sekolah.Selama saya sekolah saya jarang sekali membeli buku bahkan untuk fotocopy saja saya merasa tidak mampu, maka setiap kali ajaran baru dimana teman-teman saya beli buku saya biasanya pinjam duluan kemudian secepatnya saya rangkum dan saya kembalikan kepada teman saya sehingga saya belajar dari rangkuman yang saya tulis itu, tapi rupanya hal ini memberikan dampak positif bagi kegiatan belajar saya karena pada saat guru menerangkan saya sudah menguasainya.
Setelah kakak pertama saya tiada maka Ayah saya menarik kami semua dari rumah nenek karena dianggap rumah nenek kurang sehat bagi kami sehubungan dengan banyaknya peliharaan burung dirumah. Hal ini menyebabkan biaya transport yang besar untuk kami sampai kesekolah, saya sering tidak masuk sekolah jika tidak ada biaya transport. Dan jika masukpun saya harus berhemat, kalau berangkat saya masih bisa nunut ayah sesekali dengan resiko sekolah adik yang telat tapi pulangnya saya harus naik kendaraan umum,
Jika saya mempunyai uang lebih saya bisa pulang naik bemo sampai rumah, tapi saya lebih sering menghemat dengan naik bemo satu kali dari Wonokromo menuju Aloha, setelah itu dari Aloha sampai rumah di Griyo wage saya berjalan kaki sekitar 3 KM, atau kalau mau lebih murah lagi saya naik Bis dari Wonokromo menuju terminal Bungurasih setelah itu jalan kaki menuju rumah yang jaraknya sekitar 5 KM.
Dengan perjuangan berat akhirnya saya bisa lulus dari semua sekolah saya dengan nilai yang baik, Saya mengucap syukur Tuhan berikan saya kasih karunia untuk dapat mengikuti semua mata Pelajaran dengan mendapatkan nilai yang baik, walaupun untuk sekolah saya harus memperjuangkannya dengan begitu berat.


Perjuangan didunia market place~Berkat mengejar
Setelah Lulus sekolah dengan referensi Bos dari tante saya maka saya mulai bekerja pada Pabrik Emas sebagai staf Produksi, namun Pekerjaan disini sangat berat selain pulangnya sering malam bos saya sifatnya sangat keras dan sering marah ditambah pada saat saya mulai bekerja tahun 1997 Indonesia sedang diterpa krisis multi dimensi yang memperburuk kondisi keuangan Perusahaan sehingga bos saya merasa semakin tertekan, akhirnya setelah 2 tahun saya bekerja disana saya memutuskan untuk keluar karena sudah tidak tahan setiap hari pulang kerja menangis, sakit hati karena merasa dimarahin tanpa sebab, sering ketakutan sendiri dan badan panas dingin. Saya merasa telah kehilangan jati diri saya karena tekanan di perusahaan ini sangat berat.
Pada saat saya keluar dari Perusahaan itu bos saya dan orang yang mereferensikan saya sempat marah dan kecewa, mereka mengingatkan saya bahwa saya adalah penopang keluarga, dan bos saya sempat mengatakan jika saya keluar dari Perusahaan ini saya bisa tidak makan tapi Didalam Nama Tuhan Yesus saya tolak semuanya itu dan mengatakan Tuhan pasti memelihara saya walaupun jujur dihati kecil saya ada sedikit kekuatiran karena saya sama sekali belum memiliki pekerjaan pengganti.
Setelah berhenti dari Perusahaan itu saya cepat-cepat menulis lamaran Pekerjaan baik melalui lowongan di Koran, Gereja, maupun teman-teman. Pada saat itu mencari pekerjaan sangat sulit karena banyak Perusahaan yang bangkrut bahkan banyak PHK masal, Sehingga satu-satunya harapan saya hanya meminta & berseru pada Tuhan dan setiap saat saya mengucapkan kata-kata iman Aku tidak perlu susah mencari Pekerjaan karena Pekerjaan yang akan mengejar-ngejar aku .
Hal inilah yang akhirnya menjadi kenyataan hanya dalam waktu 2 minggu saya telah dapat bekerja kembali didistributor alat-alat Photo yang mana saya ketaui Lowongannya dari koran, dengan gaji yang lebih tinggi bahkan gaji itu melebihi standart seorang lulusan SLTA.
Dan yang sungguh Luar biasa sebelum saya masuk bekerja ditempat ini Tuhan menggenapi semua yang saya ucapkan dengan iman. Saya benar-benar dikejar-kejar Pekerjaan. Saya pernah melamar disuatu usaha dagang dimana dia mempunyai toko di Pasar Turi, saya dengan setengah hati kerumahnya untuk menanyakan kebenaran Lowongan Pekerjaan itu tanpa membawa surat lamaran karena saya mendapat informasi jika bosnya juga temperamental, pada waktu saya kesana yang luar biasa saya langsung diterima bekerja padahal saya tidak membawa fotokopy ijazah atau apapun bahkan dia sendiri yang menyuruh pegawainya untuk memfotocopy KTP saya, hati saya mulai tidak tenang karena saya takut kejadian di Perusahaan sebelumnya terjadi lagi maka saya berusaha menolak dengan halus dengan berbagai macam alasan yakni rumah saya jauh dan lain sebagainya, tapi herannya dengan mudahnya Dia mengatakan akan menyuruh sopir mengantar jemput saya padahal sebelumnya dia tidak pernah memberikan fasilitas itu, bahkan ia memberikan kesanggupan gaji yang nilainya 4 kali lipat dibanding gaji saya sebelumnya atau setara dengan 2 kali lipat gaji seorang Lulusan sarjana. Akhirnya saya pulang dan menceritakan semua ke Ayah tapi ayah saya melarang saya bekerja disana karena takut saya mengalami hal yang sama seperti Perusahaan sebelumnya, akhirnya saya telepon dan membatalkan untuk bekerja ditempat itu dan yang tidak saya duga tidak hanya bos yang punya usaha itu yang marah tapi juga mama dan kakak perempuannya sempat telepon dan berusaha membujuk saya untuk mau bekerja disana bahkan mereka mengatakan Kamu mau minta Gaji berapa Sih? Kami kan berikan sesuai yang kamu minta Luar biasa orang yang tidak mengenal saya sebelumnya dapat berkata seperti itu tanpa mengetahui hasil kerja saya sebelumnya.
Dan hal ini terulang lagi, hari jumat itu, ada suatu Perusahaan dimana saya melamar melalui Gereja tapi saya tidak pernah mengenal perusahaan ini sebelumnya. Bosnya menelepon saya dirumah dan menyuruh saya datang interview tapi saya menolak karena sudah menyetujui untuk masuk bekerja pada Distributor Alat-alat photo itu untuk esok senin. Tidak sampai 5 menit Dia telepon lagi dan mengatakan saya diterima bekerja dan tidak perlu datang interview tapi saya disuruh kesana untuk melihat kantornya. Saya ragu-ragu karena Ayah melarang dan belum sempat saya berangkat saya sudah ditelepon lagi dan orang itu menanyakan Mengapa saya belum juga berangkat? saya memberikan alasan karena tidak ada yang mengantar dan dia langsung menyuruh saya untuk naik taksi nanti dia yang akan mengganti biayanya. Setelah itu Beliau masih telepon 2 kali lagi dan berusaha mempengaruhi saya untuk bekerja di Perusahaannya dan menawarkan berapapun gaji yang saya minta dia sanggup memberikannya.
Selain dari pada Kedua Perusahaan itu yang terus menerus mengejar saya, mulai dari hari Jumat-sabtu itu telepon di rumah saya tidak pernah berhenti berdering yang intinya menawarkan Pekerjaan kepada Saya bahkan ada beberapa dari mereka seakan memaksa saya bekerja diPerusahaannya. Sungguh Luar biasa Tuhan Yesus yang saya sembah
Pengalaman mencari kerja yang begitu luar biasa campur tangan Tuhan itu memberikan saya inspirasi untuk selalu mengucapkan kata-kata iman Yakni seperti tercantum di Ulangan 28:13 saya mengucapkan bahwa saya akan menjadi kepala dan bukan ekor dan itulah yang menuntun saya untuk karier selanjutnya, Karena setiap firman yang kita ucapkan tidak akan kembali dengan sia-sia namun akan mengerjakan kehendak BAPA dalam hidup kita.
Setelah satu tahun saya bekerja di distributor alat-alat photo, saya mendapatkan tawaran yang lebih baik dari bos tempat kakak saya bekerja untuk menjadi Manager di Toko Perlengkapan miliknya. Saya menyanggupi tapi meminta waktu 2 bulan untuk meminta ijin dan mengajari karyawan baru dimana saat itu saya merangkap semua Pekerjaan mulai Administrasi penjualan, Gudang, Pembukuan, sampai Administrasi Pajak. (Dari sini saya belajar banyak hal tentang tata cara Perkantoran & Keuangan).
Pada saat saya keluar dari Distributor alat-alat photo itu, pada saat yang bersamaan toko dimana saya akan bekerja ternyata ditutup, sehingga saya sempat dipindahkan sementara ke Papaya Supermarket untuk belajar dan akhirnya Saya ditempatkan di Komugi Bakery.
Saya telah bekerja ditempat ini mulai Mei Tahun 2000 hingga saat ini dan saat ini telah dipercayakan Tuhan untuk menjadi Manager yang bertanggung jawab atas keseluruhan 4 outlet Komugi Bakery di Surabaya.

Menikmati berkat Tuhan yang luar biasa
Saat ini seluruh keluarga saya dan yang utama ekonomi keluarga saya telah dipulihkan Tuhan, karena tidak hanya saya yang mendapatkan Pekerjaan yang baik tapi seluruh saudara saya, sehingga kami bisa membeli rumah lagi yang baru.
Dulu waktu keluarga saya mengalami begitu banyak kesulitan saya sempat protes kepada Tuhan karena cobaan yang bertubi-tubi dan sepertinya Tuhan tidak mengijinkan kami bernafas lega sedikitpun, saya merenungkan makna hidup ini, untuk apa Tuhan menciptakan saya? Namun saat ini saya telah menemukan jawabannya saya sangat bersyukur sekali jika pencobaan yang kami alami begitu Luar biasa karena Tuhan juga akan pakai kami dengan Luar biasa, Saya bersyukur memiliki Orang tua yang cinta Tuhan dan membimbing kami pada ketaatan. Kunci pemulihan keluarga kami karena kami tidak pernah meninggalkan Rumah Bapa dan tetap ada dalam Pemeliharaaannya.
Saya mengingat ketekunan orang tua saya dimana setiap kamis kami beribadah doa malam di Gereja Bethany Manyar jam 10 malam dan mereka meninggalkan anaknya yang masih kecil-kecil dirumah demi mencari Tuhan bahkan mereka pernah beberapa kali pulang sampai dirumah jam 3 pagi karena Sepeda Motor kami mogok di Jalan Panjang Jiwo sehingga orang tua saya berjalan kaki sambil menuntun sepeda motor tanpa alas kaki sampai kerumah kami di Sidoarjo. Sungguh Tuhan tidak pernah berhutang, Dia membayar segala Pengorbanan kami.
Saya tidak pernah menyalahkan siapapun atas kesulitan hidup yang kami alami pada masa kecil karena saya sangat menghargai rancangan Allah yang begitu Indah atas keluarga kami sehingga mengijinkan segala hal ini terjadi, bahkan saya sangat bersyukur mendapatkan orang tua seperti Ayah & Ibu saya, mereka yang menuntun kami dijalan Tuhan, selalu mendukung, mendoakan & memberkati segala pekerjaan kami sehingga karena restu mereka kami bisa berhasil dalam segala pekerjaan kami.

Biarlah sungguh-sungguh kesaksian kami ini dapat menjadi penghiburan dan menguatkan banyak orang yang saat ini tengah menghadapi banyak cobaan, Jangan pernah menyerah! Percayalah engkau pasti keluar sebagai Pemenang Kehidupan karena sesunguhnya itulah rancangan Allah yang Utama dalam hidup kita.



Tuhan Yesus Memberkati! Smile

2 komentar: